Jakarta – mcbrnews
Tahukah Kamu?, INDONESIA – Pernah tidak kamu merenung sampai pusing… Kenapa di negeri ini, dari level menteri sampai aparat, banyak yang seolah-olah kebal rasa takut akan dosa? Kebijakan dibuat semaunya, kekuasaan dijalankan bak mafia, bahkan nyawa pun dikorbankan demi jabatan. Padahal, mayoritas dari mereka mengaku Muslim.
Lalu muncul pertanyaan besar di kepala kita: “Apakah Islam gagal mencetak orang baik?” Jawabannya: Sama sekali tidak. Masalahnya ada pada “Wadah” yang bocor, bukan “Air” yang dituangkan.
– Islam Simbolik, Bukan Substantif.
Coba perhatikan. Sangat sedikit pejabat yang benar-benar punya ilmu agama yang mendalam. Yang sering kita lihat hanyalah simbol: Peci di kepala, baju koko saat kampanye, atau status Islam di KTP. Agama hanya dijadikan “kosmetik” pencitraan. Tidak pernah turun ke hati menjadi akhlak, apalagi menjadi rasa takut kepada Allah. Mereka terlihat Islami di luar, tapi keputusan politiknya jauh dari nilai langit.
– Rabun Halal-Haram: “Dosa” Ganti Nama Jadi “Rezeki”.
Akibat minimnya ilmu, “radar” dosa mereka rusak total. Bagi mereka, haram itu cuma soal babi atau alkohol. Sementara itu, transaksi kotor seperti suap, gratifikasi, dan pemerasan? Itu dianggap lumrah. Bahkan dengan enteng mereka menyebutnya “Rezeki anak sholeh” atau “Uang lelah”. Padahal dalam Islam, menerima hadiah saat menjabat itu adalah Ghulul (pengkhianatan) dan Risywah (suap). Haditsnya jelas, ancamannya neraka, tapi karena mereka bodoh agama, mereka makan bara api itu dengan lahap.
– Kita Pun Setali Tiga Uang?.
Jangan buru-buru menunjuk pejabat. Penyakit ini juga ada di masyarakat. Kita sering menganggap wajar memberi uang tip pelicin atau menerima hadiah dari vendor, padahal kita sudah digaji. Karena ilmu agama tidak pernah dipelajari dengan benar, kita menormalisasi dosa. Kita menganggap “biasa” sesuatu yang sebenarnya dimurkai Tuhan.
Jadi, pejabat yang korup dan kejam itu bukan representasi Islam. Mereka adalah korban dari kebodohan yang dibungkus identitas agama. Mereka tersesat, tapi yang paling mengerikan… mereka merasa sedang berada di jalan yang benar.
(Red/AIPBR)
